The Hardest Thing

Move on.

Mungkin untuk sebagian orang, kata-kata itu adalah hal yang mudah dilakukan setelah tidak berhubungan lagi dengan seseorang. Namun ada juga sebagian orang yang menganggap itu adalah hal yang berat. Aku termasuk golongan yang kedua.

Teman-temanku sering berkata kalau setelah kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan seseorang (dalam hal percintaan lebih tepatnya), maka move on adalah jalan keluarnya. Tapi sepertinya untuk melakukannya tidak semudah mengucapkannya. Ada sesuatu yang menahan kita untuk melupakan orang yang dulu pernah bersama dengan kita.

Ketika untuk pertama kalinya aku merasakan ketertarikan dengan seseorang, aku merasa kalau dialah orang yang benar-benar ada untukku. Bukan khayalan ababilku belaka. Namun ketika tidak harus bersama lagi dengannya, keyakinan itu masih ada dan itulah yang membuat kesulitan untuk melupakan segala sesuatu yang kita alami bersamanya. Dan entah kenapa butuh bertahun-tahun bagiku untuk bisa melupakan orang itu. Padahal hubungan itu tidak selama melupakannya.

Saat menaiki jenjang yang lebih tinggi, aku menemukan seseorang yang bisa membuatku melupakan kenangan lama itu. Bukan orang yang aku duga sebelumnya. Wajahnya, kelakuannya, bahkan namanya, tidak pernah kuketahui sebelumnya. Sampai saat dimana aku dan orang itu bisa menjalin hubungan, keyakinan itu muncul kembali. Membayangkan hubungan yang bertahan lama adalah fantasi yang semua orang inginkan.

Namun, keinginan memang tidak sejalan dengan kenyataan. Itu membuatku agak shock (tidak sampai pingsan juga), karena benar-benar secara mendadak. Tiba-tiba semua kenangan itu muncul secara cepat. Seperti yang sebelumnya dibahas, move on tidaklah mudah.

Aku memang bukan orang yang mudah jatuh cinta dengan seseorang setelah yang sebelumnya tidak berhasil. Aku adalah orang yang benar-benar sulit jatuh cinta. Namun sekali jatuh cinta dengan seseorang, justru bukan orang biasalah yang membuatku jatuh ke dasar fantasi itu. Bahkan teman-teman menganggapku aneh karena jatuh cinta pada orang yang mereka anggap aneh pula. Tapi aku tidak mempedulikan itu semua.

Aku takut ketidakbisaanku untuk move on akan terbawa sampai aku lulus sekolah, kuliah, kerja, dan seterusnya. Aku takut kalau ketidakbisaanku ini akan membuat orang-orang berpikir kalau aku orang yang terlalu berharap dan lemah.

Bukannya aku ingin menjalin kembali dengan orang yang sama. Karena aku tahu, seperti membaca buku atau menonton film lebih dari sekali. Akhirnya akan selalu sama dan belum tentu ada twist plot di dalamnya. Aku hanya ingin bisa melupakannya dan itu sulit.

Kenapa begitu sulit, Tuhan? Inilah do'aku setiap hari namun tidak bisa juga terkabulkan. Usahaku untuk tidak menguntitmu, menceritakanmu kepada teman-temanku, semua sudah kulakukan tapi masih saja itu menjadi hal yang paling sulit.

Namun, setelah kelulusan sekolah dan bisa kuliah di universitas yang jauh dari pandangannya, aku berharap bisa melupakannya dan hidupku tidak terus dibayang-bayangi sosoknya yang selalu membuatku tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.

Karena aku tahu, sebelum aku menulis ini, dia sudah bisa melupakanku. Semua tentangku.

Untuk kamu yang disana, aku mohon do'amu agar aku bisa melupakanmu seperti kau melupakanku dan di antara kita tidak seperti terjadi apa-apa. Agar hal yang paling sulit itu, bisa menjadi hal yang mudah untuk kulakukan.

Amin.

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar

Back
to top