On the Snow


"Berpura-puralah seakan tidak terjadi apapun"

Sing For You [EXO]


---

     Lelaki yang mengenakan sweater putih itu menatap lekat seorang gadis yang sedang tidur dengan pulasnya, walaupun dengan nafas tersengal-sengal. Lelaki itu tahu kalau malam sebelumnya penyakit asma gadis itu kambuh kembali karena menangis. Lelaki itu tersenyum kecil dan mengelus pelan rambut gadis yang ia cintai itu.

     Tiba-tiba alarm berbunyi pukul 6 pagi. Sontak gadis itu langsung terduduk di tempat tidurnya dan segera mematikan alarmnya. Nafasnya masih agak tersengal, namun masih bisa ia kendalikan.

     “Selamat pagi, Haeji sayang.”tutur lelaki yang sedari tadi memandanginya tidur.

     Gadis bernama Haeji itu menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Oh, Kyungsoo. Kau membuatku gila.” ucap Haeji melihat ke arah kiri dan mendapati lelaki yang bernama Kyungsoo sedang tersenyum ke arahnya, lalu menatap lurus kembali sambil menggaruk pelan tengkuk lehernya.

     Haeji membelakkan mata dan melihat lagi ke samping kirinya. “K-Kyungsoo! Sedang apa kau disini? Kenapa kau bisa ada disini?! Bukankah kau—“

     “Sudah, sudah! Ayo cepat berdiri, mandi, lalu bergegaslah sarapan, Haeji!” Kyungsoo menarik lengan kiri Haeji dengan kencang dan langsung membuat Haeji berdiri. Namun Haeji masih bengong dan menatap Kyungsoo dengan tidak percaya. “Hei! Jangan menatapku seperti itu. Lekaslah mandi!”

     Dengan terpaksa dan perasaan yang membingungkan, Haeji mengambil handuknya dan berjalan ke kamar mandi.

     Setelah mandi dan berpakaian, Haeji bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Apalagi ia tinggal sendirian di apartemennya, mengharuskannya membuat sarapan setiap pagi tanpa Ibunya yang jauh darinya.

     Sesampainya Haeji di dapur, terkejutnya ia ketika mendapati Kyungsoo yang sedang memasak di dapurnya. Haeji terkejut setengah mati dan hampir membuat asmanya kambuh, sampai ia berjalan mundur dan menjatuhkan beberapa buku di raknya yang membuat Kyungsoo langsung melihat ke arah Haeji. “Kau kenapa? Ayo cepat duduklah, aku sedang membuat Hobakjuk (sup labu) kesukaanmu. Ini akan menghangatkanmu di musim dingin seperti sekarang.”

     Haeji duduk di tempat makan seperti yang diperintahkan Kyungsoo. Gadis itu menatap punggung Kyungsoo yang sedang memasak. “Kyungsoo-ah, kau bisa... memasak?”

     “Tentu saja aku bisa memasak. Kau seperti baru berpacaran denganku beberapa hari saja,” ujar Kyungsoo membawa semangkuk Hobakjuk ke atas meja dengan sarung tangan masak milik Haeji. “Nah, ayo makanlah, Haeji-ah!”

     Haeji menyentuh mangkuk Hobakjuk itu dengan tangan kosong, lalu ia terkejut dengan menggosokkan kedua tangannya. Ini panas, berarti aku tidak bermimpi. Ia mengambil mangkuk kecil dan mengambil beberapa potong labu dengan kuahnya dengan sendok ke dalam mangkuk kecilnya. Kemudian Haeji memasukkan potongan labu dengan kuahnya tersebut ke dalam mulutnya. Kyungsoo menatap Haeji yang sedang makan dengan tersenyum manis.

     Haeji terdiam sejenak dan melihat ke arah Kyungsoo yang sedang menatapnya. Lalu ia makan lagi Hobakjuk itu sambil menangis. Mengunyah lagi dan tetap menangis.

     Kyungsoo tertegun dan heran dengan sikap aneh kekasihnya. “Haeji-ah, kau tidak apa-apa? Mengapa kau menangis?”

     Gadis itu menyeka air matanya dan mengambil lagi Hobakjuk di mangkuk besar tersebut. “Aku... Ini... enak sekali, Kyungsoo-ah. Te-terima kasih.”

     Kyungsoo tersenyum kecil mendengar jawaban aneh Haeji. “Baiklah, aku akan makan Hobakjuk buatanku juga!” riang Kyungsoo mengambil mangkuk kecilnya.

     Haeji mengunyah labu di mulutnya sambil tersenyum kecil.

     Aku... merindukanmu, Do Kyungsoo.

---

     Haeji berjalan seperti biasa menuju halte bus yang kelak akan menaiki bus menuju kampusnya. Hari ini adalah hari terakhir ia kuliah di tahun ini, sebelum libur panjang hingga tahun baru tiba. Walaupun ia belum bisa pulang ke kampung halamannya di Mokpo karena ada masalah keluarga di rumahnya, sehingga orangtuanya menyuruhnya untuk tidak pulang dulu agar ia tidak terlibat dengan masalah keluarganya yang tidak ingin ia ketahui.

     Namun ia sudah bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan selama liburan nanti. Ia dan Kyungsoo sudah menyusun rencana liburan mereka di Seoul dengan budget seminim mungkin karena mereka masih mahasiswa dan gaji dari pekerjaan sambilan mereka juga tidak terlalu besar. Mereka berdua juga sudah merencanakan makanan apa saja yang akan mereka buat selama musim dingin.

     Haeji tersenyum sendirian memikirkan semua itu. Lalu senyumannya menghilang ketika ia tahu kalau semua rencana itu tidak akan bisa terwujudkan. Ia tahu karena semua itu tidak mungkin akan terjadi. Tidak akan pernah.

     “Hari ini kau masih kuliah?” tanya seorang pria mengenakan sweater putih yang duduk di sebelahnya di halte bus.

     “Kyungsoo-ah, mengapa kau mengikutiku?” tanya Haeji kaget, tapi tidak menunjukkan ekspresi apapun.

     “Kau tidak ingat kalau kita berada di kampus yang sama? Aish, begitu saja kau lupa. Tapi, kalau aku menjadi dirimu, hari ini pasti aku masih berada di apartemen dan tidur dengan nyenyak, karena besok sudah libur.” Kyungsoo tersenyum lebar dengan pandangan ke depan. Haeji menatap Kyungsoo tanpa ekspresi—seperti orang asing baginya. Kyungsoo menoleh dan tersenyum manis pada Haeji, namun Haeji langung menatap lurus ke depan.

     Bus yang ditunggu Haeji dan Kyungsoo pun datang. Orang-orang di sekitar mereka pun naik ke dalam bus, sedangkan Haeji dan Kyungsoo masih menunggu giliran untuk masuk ke dalam bus. Haeji melihat pantulan dirinya di badan bus yang kinclong seperti kaca. Haeji tahu kalau ia tidak akan menemukan sosok lelaki itu di sampingnya, seperti saat ini.

---

     Haeji menatap majalah dinding di kampusnya, berharap ada lowongan kerja sambilan di musim dingin untuk menambah tabungannya agar ia bisa membeli barang yang ia inginkan. Untuk bisa mengalihkan perhatiannya dari kejadian itu.

     “Tidak terasa sudah tiga hari ya? Rasanya seperti kemarin saja."

     “Peristiwa itu memang sangat mendadak. Aku tidak pernah menduganya."

     “Aku sangat kasihan pada keluarga dan kekasihnya itu.”
     
     Percakapan para mahasiswi itu mengalihkan perhatiannya dan ia langsung berjalan ke tempat dimana para mahasiswi itu mengobrol tadi.

     Haeji melihat sebuah meja dan dinding khusus yang banyak ditaruh foto dan tulisan-tulisan. Haeji memperhatikan semua itu satu persatu, walaupun ia sudah sering datang dan melihat semua ini berkali-kali. Banyak sekali foto lelaki itu dengan beberapa mahasiswa di kampusnya. Lelaki itu memang dikenal sebagai sosok sangat menyenangkan. Tidak heran kalau banyak mahasiswa yang menaruh foto lelaki itu disini.

     Haeji tetap tertuju pada satu foto. Foto yang di dalamnya terdapat sosok dirinya dengan lelaki itu, foto itu diambil ketika mereka sedang study tour ke Pulau Jeju. Tampak dari ekspresi mereka berdua bahwa saat itu mereka sedang senang bukan main. Haeji hanya tersenyum kecil melihat foto yang memiliki kenangan menyenangkan itu.

     “Aku ingat foto itu,” ujar seorang lelaki sambil menunjuk sebuah foto yang memang daritadi ia pandangi. “Foto itu saat kita di Jeju kan? Aku ingat ketika kau muntah di kapal karena ternyata kau mabuk laut, sampai-sampai aku harus membuka sweaterku untuk menggantikan bajumu yang terkena muntahanmu itu.”

     “Kyungsoo-ah,” Haeji menoleh ke arah kirinya dan mendapati Kyungsoo tersenyum padanya. Ia mengucapkan namanya begitu fasih dan membuat Kyungsoo tersenyum padanya.

     “Woah, sudah tiga hari tapi semua ini masih dipajang disini.” ucap seorang lelaki di sebelah kanannya. Haeji tahu suara siapa itu, Oh Sehun. Lelaki yang membuat Kyungsoo jengkel karena selalu berusaha mendekati Haeji, bahkan jika Kyungsoo berada di dekatnya. Sehun memang pria yang nekat. “Kau tidak apa-apa ‘kan, Moon Haeji?”

     Haeji menggeleng pelan menjawab pertanyaan Sehun. Sehun tersenyum pada Haeji dan langsung merangkul pundak kiri Haeji dengan santai. “Jadi, apa kau ada acara besok, Haeji-ah?"

     “Hei, Sehun gila! Kau masih bisa menggoda Haeji di depanku?!” teriak Kyungsoo pada Sehun. Mungkin sudah kesekian kalinya Sehun terus mendekati Haeji dan mana ada lelaki yang tidak marah jika kekasihnya terus digoda oleh lelaki yang sama setiap saat?

     “Sebenarnya, aku ada pekerjaan sampingan besok, aku benar-benar sibuk. Kumohon Sehun-ah, carilah wanita lain yang bisa kau ajak kencan selain aku.” ujar Haeji sambil melepaskan rangkulan Sehun dan berlalu, yang diikuti oleh Kyungsoo.

     “Bagaimana kalau minggu depan, Moon Haeji?” tanya Sehun lagi dengan berteriak.

     “Oh Sehun! Kau benar-benar tidak waras! Kalau dia tidak mau, ya tidak mau!” ujar Kyungsoo berjalan berbalik ke arah Sehun.

     Haeji melihat Kyungsoo hampir mau memukul Sehun, berusaha untuk menahan tubuh Kyungsoo dengan menarik sweaternya. “Hei, jangan begitu, Kyungsoo-ah! Sudahlah!” Sehun hanya melihat Haeji dengan tatapan keheranan. Haeji langsung menurunkan lengannya dan terdiam. “Kau... pasti sudah menganggapku gila.” Haeji langsung berbalik dan berjalan cepat menjauhi Sehun. Kyungsoo berjalan mengikuti Haeji sambil memasang tatapan ‘pergilah-ke-neraka’ pada Sehun.

     Sehun hanya bisa memandangi Haejiberjalan ke arah pintu keluar kampus, lalu tersenyum santai. “Fiuh, Kyungsoo sangat beruntung mendapatkan gadis itu."

     Di luar kampus, Haeji berusaha berjalan cepat untuk menghindari salju yang turun. Sedangkan Kyungsoo berusaha mengejar Haeji yang baru jalan saja sudah tidak bisa dia kejar.

     “Haeji-ah, mengapa kau terus berjalan? Berhentilah! Aku tidak bisa terus mengikutimu! Mengapa kau menghindariku? Kau mulai menyukai Sehun hah? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

     Haeji menghentikan langkahnya dan membuat Kyungsoo berhenti juga. Gadis itu berbalik menghadap ke arah Kyungsoo dan berjalan pelan ke arahnya. Mereka berdua membiarkan diri mereka di hujani salju di tengah-tengah halaman kampus yang sepi.

     “Kyungsoo...”

     “Kau tidak nyata kan?”

     Kyungsoo tertegun dengan ucapan Haeji. “Apa... apa maksudmu?”

     “Kau tidak benar-benar ada kan? Kau bukan Kyungsoo-ku kan?” tanya Haeji dengan mata yang berkaca-kaca—menahan air matanya agar tidak jatuh.

     “Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku adalah Kyungsoo. Do Kyungsoo. Kekasihmu yang sudah kau kenal selama 4 tahun!”

     “Lalu kenapa kau disini? Seharusnya kau tidak disini! Tempatmu bukan disini lagi, Kyungsoo. Kau tidak bisa lagi tinggal disini! Kau sudah... tidak ada.”

     Kyungsoo terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Haeji yang memang benar adanya. Dia tidak bisa menyangkalnya.

     “Kumohon, Kyungsoo-ah. Tinggalkan aku sendiri, jangan ganggu aku! Jangan kembali padaku! Jangan mengikutiku! Karena kau sudah tidak ada!” teriak Haeji lalu berlari meninggalkan Kyungsoo yang tetap berdiam diri.

     Kyungsoo tidak bisa mengikuti Haeji, bahkan ketika jejak kakinya masih terlihat di atas tumpukan salju. Itu akan membuat Haeji semakin jauh darinya.

---

     “Kyungsoo-ah, lihat ini! Buku dari penulis favoritku hari ini sudah rilis!” girang Haeji menunjukkan sebuah website di handphonenya kepada Kyungsoo.

     Kyungsoo pun mengambil handphone Haeji sambil meminum lemon tea yang dipesannya. “Sebentar, jadi kau mengajakku kesini karena di seberang cafe ini ada toko buku ‘kan? Kau memang cerdas.”

     Haeji hanya tersenyum dan menunjukkan giginya sambil langsung mengambil kembali handphone miliknya. “Kau sudah janji akan membelikannya untukku, apalagi ini sudah memasuki bulan Desember. Kau tidak lupa kan?”

     Mendengar itu, Kyungsoo hanya bisa mendengus. Seolah menyesal sudah pernah berjanji pada kekasihnya itu. “Iya, aku tidak lupa. Tapi kau juga tidak lupa dengan permintaanku ‘kan?"

     “Permintaan yang mana?”

     “Yang itu, Haeji-ah.” ujar Kyungsoo berpura-pura manja. “Itu? Yang mana?” tanya Haeji lagi. Ia benar-benar lupa dengan permintaan Kyungsoo.

     Kyungsoo memasang wajah jengkel dan mengeluarkan handphone dari saku celananya. “Maksudku yang ini, Moon Haeji sayang. Jam tangan ini!” ucap Kyungsoo pura-pura kesal.

     Haeji menggembungkan pipi sebelah kanannya. “Maafkan aku, aku benar-benar lupa. Maafkan aku ya, Kyung-ah...” ujar Haeji memelas. Kyungsoo memaklumi kelupaannya karena Kyungsoo memang sudah menceritakan soal jam tangan yang diinginkannya pada Haeji sejak lama, begitu juga Haeji.

     Kyungsoo memasang wajah ‘kena kau’ sambil mencubit pipi kanan Haeji. “Iya, kumaafkan kau kali ini. Entah keberapa kali aku sudah memaafkanmu.”

     “Baiklah, aku akan pergi ke toko buku sekarang dan membeli buku incaranmu. Kau tunggu saja disini.” ujar Kyungsoo berdiri dan bergegas keluar cafe. Namun Haeji langsung menarik lengan sweater putih Kyungsoo. “Kenapa, Haeji-ah?”

     “Hmm, setelah kupikir kembali, sebaiknya kita pergi bersama saja. Aku tidak ingin sendirian disini.” tanya Haeji cemas. “Aku tidak mau... kau kenapa-napa.” Tiba-tiba saja perasaan Haeji berubah derastis menjadi khawatir pada Kyungsoo.

     “Memangnya kenapa? Aku hanya tinggal menyeberang saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Kyungsoo melepas pegangan Haeji dan mencium keningnya. “Aku akan segera kembali.”

     Haeji hanya mematung di kursinya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa tidak enak. Haeji terus memandangi gerak Kyungsoo yang sekarang sedang menunggu di depan cafe agar bisa menyeberang dari balik jendela cafe. Seperti tahu sedang diperhatikan, Kyungsoo melambaikan tangannya ke arah Haeji dan membuat Haeji reflek membalas lambaiannya.

     Ketika lampu lalu lintas menunjukkan gambar orang berjalan, Kyungsoo dan orang disekitarnya mulai menyeberang. Mata Haeji tidak bisa lepas dari punggung Kyungsoo yang sedang berjalan.

     Sampai akhirnya sebuah mobil yang melaju kencang menghantam tubuh Kyungsoo dan beberapa orang di sekitarnya. Haeji yang melihat peristiwa itu dengan matanya sendiri, langsung berlari ke luar cafe dengan nafas tersengal-sengal dan berusaha menghampiri tubuh Kyungsoo yang sudah penuh dengan darah.

     “Haeji-ah! Haeji-ah!” panggil seseorang membuyarkan lamunannya. “Kau tidak apa-apa?” Bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket untuk shift malam membuatnya harus begadang sampai pagi nanti. Apalagi hanya ia sendiri yang bekerja malam ini. Membuatnya lelah setengah mati.

     Haeji mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya dan langsung melihat seseorang yang tadi memanggilnya. “Oh Sehun? Sedang apa kau disini? Kau tahu aku bekerja disini?”

     “Aku beli dua samyang untuk kita berdua. Kau mau makan bersamaku ‘kan? Sekali saja.” tawar Sehun sambil menunjukkan dua tempat samyang instan yang sudah ia seduh sambil memberi sejumlah uang pada Haeji.

     Haeji melihat sekeliling minimarket. Hanya ada Haeji, Sehun, dan beberapa orang di minimarket. Tidak ada Kyungsoo, batin Haeji. Akhirnya Haeji menghela nafas sambil tersenyum pasrah. “Baiklah, tapi setelah orang-orang itu membayar belanjaan mereka.”

     “Akhirnya aku bisa makan malam bersamamu, Haeji-ah.” ucap Sehun sambil menyatap samyang miliknya. Walaupun mereka berdua hanya duduk bersebelahan karena meja di minimarket yang lurus menghadap ke jendela luar, namun Sehun senang bukan main. Beda dengan Haeji yang hanya melamun dan mengaduk-aduk samyangnya dengan sumpit.

     “Aku bisa membuatmu melupakan Kyungsoo,” ucap Sehun yang membuat Haeji menoleh ke arahnya. “Kau hanya perlu memberiku kesempatan, supaya aku bisa membuktikan padamu kalau aku bisa lebih baik darinya.”

     Haeji hanya menatap Sehun dengan penuh malas—membahas perasaan Sehun padanya yang tidak ada habisnya. Memang benar dia belum bisa melupakan Kyungsoo. Dia hanya berharap Kyungsoo ada disini sekarang dan memarahi Sehun seperti dulu.

     “Kau tidak perlu melakukannya.” ujar Haeji sambil berdiri dan berjalan menjauhi Sehun.

     Sehun langsung menangkap lengan kanan Haeji dan menariknya sampai jarak di antara mereka berdua terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku mau melakukannya?”

     “Apa... apa yang akan kau lakukan hah? Kau jangan bertindak macam-macam padaku, Oh Sehun!” teriak Haeji mencoba melepaskan diri dari Sehun.

     Sehun memegangi kedua lengan Haeji dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Haeji yang tinggal beberapa senti. Haeji berusaha mendorong tubuh dan menghindari ciuman Sehun dengan semampunya. Namun tubuh Sehun yang kuat tidak bisa dikalahkan dengan tubuhnya yang hanya makan siang dengan ramyeon hari ini.

     Kyungsoo, kumohon tolong aku...

     Saat Sehun hampir berhasil mencium Haeji, seseorang memegangi pundak Sehun dari belakang dan membuatnya menoleh ke belakang. Sehun langsung mendapat pukulan tepat di pipi kanannya hingga ia terjatuh ke lantai.

     Haeji yang kaget langsung mundur menjauhi tubuh Sehun, menoleh ke arah seseorang yang memukul Sehun dengan sempurna. Alangkah kagetnya Haeji karena seseorang yang berhasil menyelamatkannya adalah...

     “K-Kyungsoo?” ucap Sehun ketakutan ketika ia melihat sosok Kyungsoo yang memakai sweater putih dan blazer hitam itu, berhasil memukulnya. Sedangkan Haeji hanya terbelak kaget dan tidak pecaya karena Sehun juga bisa melihat wujud Kyungsoo.

     “Kau... jangan berani-berani menyentuh Haeji lagi!” kesal Kyungsoo sambil menahan amarah dan memasang tatapan ingin membunuh Sehun. Sehun hanya terdiam dan ketakutan setengah mati.

     Pernafasan Haeji mulai tidak teratur ketika orang-orang di luar toko melihat Kyungsoo yang baru saja menghajar Sehun sampai jatuh. Kyungsoo langsung menarik lengan Haeji dan berlari keluar minimarket bersamanya entah kemana. Mereka berdua benar-benar menarik perhatian orang-orang malam itu.

---

     “Bertahanlah, Kyungsoo-ah! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit!” ucap Haeji tidak bisa menahan air matanya di ambulans sambil memegangi tangan dan kepala Kyungsoo yang penuh darah. Kyungsoo hanya tersenyum lemah pada Haeji—berusaha menggenggam erat pegangan Haeji. Kyungsoo tahu kalau ia tidak akan selamat, namun kekhawatiran kekasihnya membuatnya bisa bertahan sedikit lebih lama.

     “Haeji... jangan... menangis...”

     “Maafkan aku, Kyungsoo! Gara-gara aku, kau mengalami semua ini. Maafkan aku...”

     “Haeji... maukah kau berjanji padaku?” Haeji langsung terdiam dan menyeka air matanya. Ia mengangguk. “Berjanjilah... kau tidak akan menangisiku lagi setelah ini. Berpura-puralah seakan tidak terjadi apapun.”

     Haeji terdiam. Ia tahu omongan Kyungsoo benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia memenuhi janji kekasihnya itu? Namun setelah Kyungsoo memasang wajah memohon, Haeji akhirnya terpaksa berjanji kepada Kyungsoo. Tampak kelegaan dari wajah Kyungsoo saat ini.

     “Haeji, bisakah kau menyanyikan lagu yang kunyanyikan padamu saat pertama kali kita berkencan?”

     Tangisan Haeji semakin tidak bisa ditahan, namun Haeji hanya bisa mengiyakan permintaan Kyungsoo itu. Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, Haeji mencoba menyanyikan lagu yang diminta Kyungsoo.‘I Like You’ milik Weather Cast.

     Sambil menyanyikan lagu itu, Kyungsoo tersenyum sambil berusaha agar matanya tidak tertutup. Haeji terus bernyanyi sembari memeluk Kyungsoo—memohon padanya agar ia tidak pergi.

---

     Mereka berdua berhenti di pinggir jalan yang telah ditutupi salju. Haeji yang tersengal-sengal langsung mengambil alat bantu nafasnya dari saku celananya. Kyungsoo menatap kasihan pada Haeji sambil mengelus pelan punggungnya. “Maafkan aku, Haeji-ah.”

     “Kemana saja kau?” tanya Haeji melepaskan elusan tangan Kyungsoo. “Aku mengkhawatirkanmu seharian ini. Saat aku bangun tidur hari ini, aku tidak menemukanmu. Begitu juga di tempat aku bekerja. Aku begitu... menghkawatirkanmu.”

     Mereka berdua terdiam kembali. Hanya diiringi suara mobil-mobil yang melintas. “Kau ingat?” tanya Kyungsoo sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya. “Dulu aku pernah berjanji untuk segera kembali padamu.”

     Haeji mengangkat sebelah alisnya—kebingungan. Kyungsoo segera memberikannya sesuatu yang sempat Haeji inginkan, buku yang sempat diinginkan Haeji. “Aku tidak lupa, Malaikatku. Seharian ini aku mencari buku ini. Buku ini ternyata benar-benar bagus.”

     Air mata tidak bisa Haeji bendung lagi, langsung ia peluk Kyungsoo yang masih memegangi buku itu. “Maafkan aku, Kyungsoo-ah. Aku yang membuatmu begini. Aku yang membuatmu sempat menderita. Kemarin aku selalu menghindarimu karena aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk tidak menangisimu lagi. Namun selama tiga hari kepergianmu, aku masih saja menangisimu. Maafkan aku...”

     Kyungsoo membalas pelukan Haeji, ia tidak ingin menangis di depan gadisnya. “Aku tahu. Aku tahu kau tidak akan bisa menahan air matamu. Maafkan aku juga yang membuatmu harus berjanji untuk hal yang tidak mungkin.” ucapnya sambil melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua pipi Haeji. “Untuk kali ini, kumohon jangan menangis.”

     Haeji masih menahan tangisannya sambil melepaskan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya lalu ia pakaikan di pergelangan tangan kiri Kyungsoo. “Sebelum hari itu, aku sudah membelikan apa yang kau mau. Sekarang aku malah memakainya karena tidak sempat kuberikan padamu. Jam tangan itu membuatku seakan kau selalu mengikutiku. Aku ingin kau terus mengikutiku.” ujar Haeji tersenyum lemah pada Kyungsoo. “Kumohon, jangan pergi lagi.”

     Kyungsoo sempat tertegun dengan apa yang Haeji lakukan. Langsung ia peluk kembali Haeji, kini ia tidak bisa menahan tangisannya. “Haeji-ah, kemanapun kau pergi, aku akan selalu mengikutimu. Aku hanya perlu mengikuti jejakmu. Namun, kau tidak perlu melihat diriku benar-benar mengikutimu. Kau harus tetap menjalani hidupmu tanpa kehadiranku.”

     Pelukan mereka diselingi dengan turunnya salju yang memenuhi ruang di antara mereka. “Terima kasih, Kyungsoo-ah. Aku... sangat mencintaimu.”

     “Kau pun tahu aku begitu, Haeji.”


~~~


Hosh hosh, akhirnya update fanfic lagi /confetti to myself/

Sedikit tak jelaskah? Memang iya TT

Fanfic ini dibuat untuk satu lomba fanfic saat masih SMA, selain itu karena ada batasan dalam halaman, jadi harus dipersingkat ceritanya.

Sayangnya, author ini belum bisa improve karena tugas yang makin membahana tiap harinya. Ini hanya sekedar untuk pemanis blog karena isinya sudah mulai banyak pembahasan tugas.

Silahkan di komentar bila ada yang ingin dikomentar. Sankyuu ~

Salam teh manis ^^

CONVERSATION

2 comments:

  1. saya mau protes, seharusnya nama pemeran perempuan itu di ganti dengan nama saya heheheheheh^^

    BalasHapus

Back
to top